Home Kota Batang Libatkan Pegiat Literasi Selamatkan Eksistensi Batik Rifa’iyah Batang

Libatkan Pegiat Literasi Selamatkan Eksistensi Batik Rifa’iyah Batang

26
0

BATANG, seputarbisnis.id – Kemajuan tekhnologi yang tak bisa dibendung lagi, menjadi ancaman serius dalam menjaga warisan budaya Nusantara, khususnya ancaman krisis regenerasi, keberadaan batik tulis Rifa’iyah sebagai warisan lokal adiluhung Kabupaten Batang Jawa Tengah terus diperjuangkan. Agar mahakarya seni ini mampu bertahan hingga ratusan tahun ke depan, para pengrajin didorong untuk lebih adaptif terhadap pasar modern tanpa meninggalkan nilai history yang terkandung didalamnya, Rabu (29/04).

Hal ini menjadi benang merah dalam Workshop Sejarah dan Budaya bertajuk “Menyelamatkan Eksistensi Batik Rifa’iyah” yang diinisiasi oleh Komunitas Pegiat Literasi Batang di Kedai Joglo Mberan.

Kegiatan yang menghadirkan Bunda Literasi Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, dan tokoh pengrajin Batik Rifa’iyah, Miftakhutin. Bunda Literasi Batang, Faelasufa Faiz, menekankan pentingnya membuka diri terhadap perubahan tren fesyen.

Menurutnya, pakem batik tulis bolak-balik dengan harga premium berkisar Rp 3.500.000 hingga Rp 5.000.000 tetap harus dipertahankan. Namun, pengrajin juga harus berani berinovasi membuat produk yang lebih ramah kantong bagi kalangan anak muda dan pekerja urban.

“Kalau kita mau Batik Rifa’iyah ini masih ada sampai puluhan atau ratusan tahun lagi, kita harus memberikan insentif agar generasi muda tahu bahwa membatik ini juga bisa menghasilkan uang dan kesejahteraan. Kita harus adaptif,” ungkap Faelasufa di hadapan para pengrajin.

Ia mencontohkan kesuksesan brand lokal ibu kota seperti Oemah Etnik dan Sejauh Mata Memandang yang berhasil memasarkan baju batik tulis di kisaran harga Rp 900 ribuan dan laku keras di kalangan anak muda Jakarta. Kedepan, Faelasufa merencanakan strategi untuk menggandeng desainer-desainer busana nasional agar mau berkolaborasi menggunakan material kain Batik Rifa’iyah.

“Kualitas batiknya sama, tapi kita bisa akali. Misalnya motifnya dibuat lebih renggang atau tidak perlu bolak-balik, sehingga harganya bisa masuk untuk ready-to-wear. Saya sangat ingin melihat ibu-ibu pembatik ini sejahtera, bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin, dan bisa naik haji,” tambahnya.

Sementara itu, pengrajin sekaligus pemberdaya Batik Rifa’iyah, Miftakhutin, menceritakan nilai historis batik yang dulunya menjadi sarana silaturahmi sekaligus medium untuk berdakwah (mengaji). Namun, ia tak menampik adanya kendala serius dalam produksi dan regenerasi saat ini.

“Tantangan utamanya, batik ini kurang diminati generasi muda sebagai profesi utama. Selain itu, tenaga penglowong (pembuat pola dasar) di Desa Kalipucang Wetan kini hanya tersisa tiga orang, dan di Mberan sisa dua orang,” beber Miftakhutin.

Menjawab keresahan tersebut, Miftakhutin berinisiatif membuka kelas membatik gratis di rumahnya yang memfasilitasi lima orang setiap tiga bulan. Dari pelatihan mandiri inilah lahir generasi baru seperti ‘Mbak Salsa’ yang kini menjadi angin segar karena mampu membantu pengrajin di bidang pemasaran digital.

“Alhamdulillah, berkat kehadiran anak muda yang melek digital, kami sangat terbantu. Saat ini kami sedang mengikuti bootcamp dari Bank Indonesia di Semarang. Jika lolos kurasi, Batik Rifa’iyah akan maju pameran ke Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta. Mohon doanya,” pungkasnya dengan penuh harap.

Sinergi antara visi pemerintah daerah, komunitas literasi, dan semangat pantang menyerah dari para pengrajin ini diharapkan mampu mengangkat derajat Batik Rifa’iyah. Tidak hanya sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadikannya urat nadi ekonomi kreatif kebanggaan masyarakat Batang.(ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here